Ketika perang Aceh meletus pada tahun 1873, Teuku Umar ikut serta berjuang bersama pejuang-pejuang Aceh lainnya, padahal umurnya baru menginjak 19 tahun. Awalnya, ia berjuang di kampungnya sendiri yang kemudian dilanjutkan ke Aceh Barat. Pada umur yang masih muda ini, Teuku Umar sudah diangkat sebagai keuchik (kepala desa) di daerah Meulaboh.
Prajurit sejati tidak akan pernah berhenti. Jika terpaksa mundur bukan berarti mengalah, tetapi kembali menyusun kekuatan untuk kembali menggempur. Prajurit sejati tidak akan menyerah, karena mati berkalang tanah lebih utama dibandingkan mengacungkan tanah tanda menyerah. Salah satu ciriprajurit sejati terdapat pada laki-laki bangsawan Bali ini, yaitu I gusti Ngurah Rai.
Ketika perang Aceh meletus pada tahun 1873, Teuku Umar ikut serta berjuang bersama pejuang-pejuang Aceh lainnya, padahal umurnya baru menginjak 19 tahun. Awalnya, ia berjuang di kampungnya sendiri yang kemudian dilanjutkan ke Aceh Barat. Pada umur yang masih muda ini, Teuku Umar sudah diangkat sebagai keuchik (kepala desa) di daerah Meulaboh.
Prajurit sejati tidak akan pernah berhenti. Jika terpaksa mundur bukan berarti mengalah, tetapi kembali menyusun kekuatan untuk kembali menggempur. Prajurit sejati tidak akan menyerah, karena mati berkalang tanah lebih utama dibandingkan mengacungkan tanah tanda menyerah. Salah satu ciriprajurit sejati terdapat pada laki-laki bangsawan Bali ini, yaitu I gusti Ngurah Rai.